Classical Degung


Musik Degung Sunda

Degung Klasik Sunda

oleh: Rachmat Herawan, S.Sn*

1. Asal Mula Degung

Jaap Kunst dalam bukunya Toonkunst van Java (Kunst, 1934), mencatat bahwa awal perkembangan Degung adalah sekitar akhir abad ke-18/awal abad ke-19. Dalam studi literaturnya, disebutkan bahwa kata “degung” pertama kali muncul tahun 1879, yaitu dalam kamus susunan H.J. Oosting. Kata “de gong” (gamelan: Belanda) dalam kamus ini terkandung pengertian: penclon-penclon yang digantung[1]. Menurut Entjar Tjarmedi dalam bukunya Pangajaran Degung, waditra (instrumen: Sunda) ini berbentuk 6 buah gong kecil yang biasanya digantung pada sebuah gantungan yang disebut dengan rancak. Menurut beliau istilah “gamelan Degung” diambil dari nama waditra tersebut, yang kini lebih dikenal dengan istilah jenglong (Tjarmedi, 1974: 7).

Adapun mengenai waktu kemunculannya belum ada literatur yang akurat selain kamus H.J. Oosting di atas. Namun sebagaimana Jaap Kunst, Enip Sukanda pun berpendapat dalam karya penelitiannya tentang Dedegungan pada Tembang Sunda Cianjuran, bahwa ketika kamus itu dicetak berarti gamelan Degung-nya sudah ada terlebih dahulu, katakanlah sekitar 100 tahun sebelumnya (Sukanda, 1984:15).

Ada pendapat lain yaitu dari Atik Soepandi, dalam tulisannya mengenai Perkembangan Seni Degung Di Jawa Barat, bahwa gamelan Degung adalah istilah lain dari Goong Renteng, mengingat banyak persamaan antara lagu-lagu Degung Klasik dengan lagu-lagu goong renteng (Soepandi, 1974). Perbedaannya adalah apabila Goong Renteng kebanyakan ditemukan di kalangan masyarakat petani (rakyat), maka gamelan Degung ditemukan di lingkungan bangsawan (menak).

 

2. Istilah “Degung”

Istilah “degung” memiliki dua pengertian: pertama, adalah nama seperangkat gamelan yang digunakan oleh masyarakat Sunda, yakni gamelan-degung. Gamelan ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan gamelan pelog-salendro, baik dari jenis instrumennya, lagu-lagunya, teknik memainkannya, maupun konteks sosialnya; kedua, adalah nama laras (tangga nada) yang merupakan bagian dari laras salendro berdasarkan teori R. Machjar Angga Koesoemahdinata. Dalam teori tersebut, laras degung terdiri dari degung dwiswara (tumbuk nada mi (2) dan la (5)) dan degung triswara (tumbuk nada da (1), na (3), dan ti (4))[2]. Karena perbedaan inilah maka Degung dimaklumi sebagai musik yang khas dan merupakan identitas masyarakat Sunda.

Dihubungkan dengan kirata basa[3], kata “degung” berasal dari kata “ngadeg” (berdiri) dan “agung” (megah) atau “pangagung” (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa fungsi kesenian ini dahulunya digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. E.Sutisna, salah seorang nayaga (penabuh) grup Degung “Parahyangan”, mengatakan bahwa gamelan Degung dulunya hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam buku Sejarah Seni Budaya Jawa Barat Jidlid II yang disusun oleh Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat, disebutkan bahwa:

“Pada mulanya pemanggungan gamelan Degung terbatas di lingkungan pendopo-pendopo kabupaten untuk mengiringi upacara-upacara yang bersifat resmi. Menurut riwayat, gamelan Degung yang masuk ke kabupaten Bandung berasal dari kabupaten Cianjur. Raden Aria Adipati Wiranatakusumah V yang kemudian dikenal dengan julukan Dalem Haji sebelum menjadi bupati Bandung pernah berkedudukan sebagai bupati Cianjur. Pada waktu itu di kabupaten Cianjur telah berkembang seni Degung. Pada tahun 1920 R.A.A. Wiranatakusumah V mulai diangkat menjadi bupati Bandung, ketika itu beberapa orang pemain seni Degung Cianjur ada yang ikut serta ke Bandung.” (1977: 69)

Dari keterangan tersebut bisa disimpulkan bahwa pada awalnya gamelan ini merupakan musik keraton atau kadaleman, di mana nilai-nilai etika sosial dan estetika dijunjung tinggi. Pada saat itu Degung merupakan musik gendingan (instrumental) untuk mengiringi momen-momen yang sakral. Namun kepindahannya secara politis dari kabupaten Cianjur ke kabupaten Bandung, menyebabkan perubahan-perubahan penting yang akan diterangkan pada bagian setelah ini.

 

3. Struktur Waditra/Instrumen

Pada awal pemerintahan Dalem Haji[4] sebagai bupati Bandung, ensambel gamelan Degung hanya terdiri dari alat-alat instrumen: bonang, cecempres (saron/panerus), jengglong (degung), dan goong. Namun atas usul Abah Iyam dan putra-putranya, yaitu Abah Idi, Abah Oyo, dan Abah Atma, para seniman karawitan Bandung yang sudah membentuk grup “Pamagersari” (Abah Idi, 1918) dan “Purbasasaka” (Abah Oyo, 1919), perangkatnya ditambah dengan: peking, kendang, dan suling. Usul ini disampaikan setelah diadakan Cuultuurcongres Java Instituut pada tanggal 18 Juni 1921 yang di dalamnya menampilkan Goong Renteng dari desa Lebakwangi, kecamatan Banjaran, kabupaten Bandung[5].

Pada tahun 1961 oleh R.A. Darya atau R.A. Mandalakusuma (kepala RRI Bandung), ketika menggunakan gamelan Degung untuk mendukung gending karesmen[6] berjudul “Mundinglayadikusumah” garapan Wahyu Wibisana, waditra Degung ditambah lagi dengan gambang dan rebab. Lalu pada tahun 1962, ada yang mencoba memasukkan waditra angklung ke dalam ensambel Degung. Nano S. dalam karya-karya Degung Baru bahkan memasukkan waditra kacapi. Namun penambahan beberapa waditra ini tidak bertahan lama, hanya bersifat situasional dan kondisional pada garapan tertentu, kecuali waditra peking, kendang, dan suling yang masih bertahan sampai sekarang.

Dilihat dari bentuknya, waditra bonang, jenglong, dan goong berbentuk penclon, yang secara organologis termasuk ke dalam klasifikasi idiofon (alat pukul) dengan sub klasifikasi gong chime. Sedangkan waditra cecempres dan peking berbentuk wilahan (bilah), yang secara organologis termasuk ke dalam klasifikasi idiofon dengan sub klasifikasi metalofon. Sementara waditra suling termasuk aerofon, dan kendang termasuk membranofon. Klasifikasi ini berdasarkan terjemahan Rizaldi Siagian dari teori Sachs/Hornbostel (1914:6)[7].

Banyaknya penclon pada waditra bonang biasanya antara 14 sampai dengan 16 buah, dimulai dengan nada 1 (da) tertinggi sampai nada 1 (da) terendah sebanyak 3 gembyang (oktaf). Penclon-penclon ini disusun di atas rancak (penyangga), dengan menempatkan penclon terkecil (nada tertinggi) di ujung sebelah kanan pemain, berurutan hingga penclon terbesar (nada terendah) di ujung sebelah kiri pemain. Hal ini disesuaikan dengan urutan nada pada laras (tangga nada) Degung[8]. Bonang bertugas sebagai pembawa melodi pokok yang merupakan induk dari semua waditra lainnya. Pangkat (intro) lagu Degung dimulai dari waditra ini.

Penclon pada waditra jenglong berjumlah 6 buah yang terdiri dari nada 5 (la) hingga 5 (la) di bawahnya (1 gembyang), dengan ambitus (wilayah nada) yang lebih rendah dari bonang. Penclon-penclon ini digantung dengan tali pada rancak yang berbentuk tiang gantungan (lihat gambar 4 di belakang-kanan). Jenglong bertugas sebagai balunganing gending (bass; penyangga lagu) yakni sebagai penegas melodi bonang.

Gong yang terdiri dari 2 buah penclon, yakni kempul (gong kecil) dan goong (gong besar) digantung dengan tali secara berhadapan pada rancak (lihat gambar 8 di belakang-kiri). Kempul berada di sebelah kiri pemain, sementara goong di sebelah kanan pemain. Ambitus nada gong sangat rendah, bertugas sebagai pengatur wiletan (birama) atau sebagai tanda akhir periode melodi dan penutup kalimat lagu. Goong disebut juga sebagai pamuas lagu.

Jumlah wilahan pada cecempres adalah 14 buah, disusun di atas rancak yang dimulai dari nada 2 (mi) tertinggi di ujung sebelah kanan pemain hingga nada 5 (la) terendah di ujung sebelah kiri pemain. Cecempres bertugas sebagai rithm (patokan nada) yang menegaskan melodi bonang, yang dipukul dengan pola yang konstan.

Adapun jumlah wilahan pada peking adalah sama dengan cecempres, namun nada-nada peking memiliki ambitus (wilayah nada) yang lebih tinggi dari cecempres (biasanya antara sakempyung: kira-kira 1 kwint hingga sagembyang: kira-kira 1 oktav). Tugas peking agak berbeda dari cecempres, yakni sebagai pengiring melodi. Apabila jenglong dan cecempres dipukul tandak (konstan menurut ketukan), maka peking terkesan lebih ber-improvisasi. Peking sering juga disebut sebagai pameulit/pamanis lagu. Sebagaimana penulis jelaskan sebelumnya, peking merupakan waditra tambahan.

Seperti halnya peking, waditra kendang dan suling juga merupakan tambahan. Pada awalnya kendang tidak dimainkan seperti pada lagu-lagu berlaras pelog/salendro, tetapi hanya sebagai penjaga ketukan saja seperti pada orkestra Barat. Namun permainan kendang pada lagu-lagu Degung sekarang lebih variatif, sehingga menurut penulis hal ini menyebabkan penonjolan melodi bonang jadi ‘tersaingi’. Begitupun dalam permainan suling. Walaupun dengan timbre (warna suara) yang berbeda, namun kedudukannya sama seperti vokal sehingga pendengar jadi kurang menikmati melodi bonang. Namun pada lagu-lagu Degung Baru kehadiran peking, kendang, dan suling ini menjadi hal biasa, apalagi bagi apresiator yang belum pernah mendengar lagu-lagu Degung.

Bahan dasar pembuatan bonang, cecempres, peking, jenglong, dan goong yang paling baik kualitas suaranya adalah dari logam perunggu (campuran timah dan tembaga dengan perbandingan 1 : 3). Ada yang menggunakan bahan dasar logam kuningan dan besi. Namun kedua logam tersebut kualitas suaranya lebih rendah daripada logam perunggu[9]. Kualitas logam ini pun berpengaruh kepada daya tahan terhadap cuaca.

 

4. Laras/Tangga Nada

Laras (berasal dari bahasa Jawa) mengandung pengertian yang sama dengan tangga nada pada musik Barat, yakni: deretan nada-nada, baik turun maupun naik, yang disusun dalam satu gembyang (oktav) dengan swarantara (interval) tertentu. Satu gembyang adalah jarak antara satu nada ke nada yang sama di atasnya (misalnya dari 1 ke 1’ tinggi). Seperti kita ketahui bahwa pada teori musik Barat, satu gembyang berjarak 1200 sen.

Sementara swarantara adalah jarak antara nada satu ke nada berikutnya (misalnya 1 ke 2, 2 ke 3, dan seterusnya). Perbedaan laras Sunda dengan tangga nada musik Barat adalah, apabila pada tangga nada musik Barat penomoran nada diatur naik dari nada rendah ke nada tinggi (berjumlah 7 nada pokok), maka pada laras Sunda penomoran diatur menurun dari nada tinggi ke nada rendah (berjumlah 5 nada pokok).

Dalam karawitan Sunda dikenal empat laras pokok, yaitu: laras pelog, laras salendro (yang keduanya dikenal juga di Jawa dan Bali), laras madenda/sorog, dan laras Degung (yang kedua terakhir ini hanya dikenal di daerah Sunda). Keempat laras ini masing-masing memiliki perbedaan pada swarantaranya. Raden Machjar Angga Koemoemadinata dalam buku Ilmu Seni Raras (1969) telah membagi perbedaan swarantara pada laras-laras tersebut, namun uraian mengenai hal itu akan memerlukan pembahasan yang terlalu panjang. Dalam tulisan ini, yang diperlukan adalah perbedaan swarantara pada laras Degung.

 

Laras Degung:

Seperti pada laras Pelog, swarantara pada laras Degung dari nada yang satu ke nada berikutnya juga berbeda-beda. Namun laras Degung menurut Rd. Machjar merupakan keturunan dari laras Salendro, sehingga 1 gembyangnya dibagi menjadi 15 garis jarak, jadi masing-masing jaraknya adalah 1200/15 = 80 sen. Untuk lebih jelasnya perhatikan grafik berikut ini:

 

1 (da)

 

 

 

 

 

 

 

2 (mi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3 (na)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 gembyang

 

 

 

 

 

 

= 1200 sen

 

 

 

4 (ti)

 

 

 

 

 

 

 

5 (la)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 (da)

 

 

Keterangan:

Swarantara antar nada-nada pada laras Degung adalah sebagai berikut:

- Swarantara nada 1 (da) ke 2 (mi) adalah 80 sen.

- Swarantara nada 2 (mi) ke 3 (na) adalah 400 sen.

- Swarantara nada 3 (na) ke 4 (ti) adalah 240 sen.

- Swarantara nada 4 (ti) ke 5 (la) adalah 80 sen.

- Swarantara nada 5 (la) ke 1 (da) adalah 400 sen.

 

Namun beberapa tahun terakhir ini banyak peneliti yang mengkritisi teori Rd. Machjar, di antaranya adalah tulisan Heri Herdini pada Jurnal Seni STSI Bandung, Panggung, edisi XXXII yang berjudul “Peninjauan Ulang Terhadap Teori Laras dan Surupan Karya Raden Machjar Angga Koesoemadinata”. Tulisan itu merupakan hasil penelitian terhadap 52 alat musik yang terdiri dari 30 instrumen gamelan, 10 instrumen tarawangsa (rebab dan kacapi), 7 instrumen kacapi indung, dan 5 instrumen rebab. Penelitian ini dipimpin oleh Deni Hermawan dengan bantuan sponsor dari The Toyota Foundation.

Setelah dilakukan pengukuran frekuensi nada-nada pada gamelan, kacapi, dan rebab tersebut dengan menggunakan alat ukur frekuensi bernama Dual Channel Real-Time Frequency Analyzer tipe 2144, diperoleh data-data sebagai berikut:

 

Tabel 2.1.

Data interval laras Degung, Madenda, dan Salendro

NO.

NAMA LARAS

SUSUNAN INTERVAL NADA

1

Laras Degung

1

2

 

 

 

3

 

4

5

 

 

 

1

99,65 398,64 199,31 99,65 398,64

2

Laras Madenda

3

4

 

5

 

 

 

1

2

 

 

 

3

99,72 199,31 398,66 99,65 398,65

3

Laras Salendro

1

2

3

4

5

1

249,11 249,14 199,31 249,13 249,14

Tabel 2.2.

Interval dari ketiga laras tersebut apabila dibulatkan menjadi:

NO.

NAMA LARAS

SUSUNAN INTERVAL NADA

1

Laras Degung

1

2

 

 

 

3

 

4

5

 

 

 

1

100 400 200 100 400

2

Laras Madenda

3

4

 

5

 

 

 

1

2

 

 

 

3

100 200 400 100 400

3

Laras Salendro

1

2

3

4

5

1

250 250 200 250 250

 

Dari data-data hasil penelitian tersebut, maka Herdini menarik kesimpulan sebagai berikut:

“Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diperoleh kesimpulan sementara bahwa laras salendro yang sebenarnya adalah ‘bedantara’ dengan susunan interval 250 – 250 – 200 – 250 – 250. Dengan demikian, laras salendro padantara sebagaimana yang dinyatakan dalam teori laras Raden Machjar Angga Koesoemadinata sesungguhnya tidak ada. Kesimpulan kedua, pendapat Raden Machjar Angga Koesoemadinata tentang laras Degung dan madenda sebagai turunan dari laras salendro sesungguhnya perlu dipertanyakan dan dikaji ulang kembali, oleh karena interval 250 sen pada laras salendro bila dibagi oleh interval 100 sen pada laras Degung dan madenda tidak menghasilkan jumlah yang bulat. Dengan demikian, dilihat dari proses pembentukannya, laras Degung dan madenda merupakan laras yang mandiri bukan merupakan keturunan dari laras salendro.” (Herdini, 2004:65-66)

 

Pada kenyataannya sistem pelarasan dalam karawitan (musik) Sunda memang tidak ada yang persis sama. Kenyataan ini akan semakin terasa apabila kita mencoba membandingkan antara instrumen yang satu dengan lainnya, misalnya: antara laras goong renteng Embah Bandong desa Lebakwangi-Batukarut di Bandung selatan, berbeda dengan laras goong renteng Panggugah Manah desa Cigugur di Kuningan; antara kacapi indung Cianjuran dengan Jentreng Tarawangsa; antara gamelan Degung di Bandung dengan di Cirebon; dan sebagainya.

5. Pola Tabuhan

Karakteristik yang paling menonjol – dan jarang ditemukan pada ensambel gamelan lain – dari musik Degung adalah pola tabuhan bonangnya yang menggunakan teknik gumekan[10]. Pola tabuhan bonang inilah yang mewakili ekspresi melodi utama musik instrumental Degung seperti permainan piano pada musik klasik Barat[11]. Ketrampilan kedua tangan pemain bonang memegang peranan yang penting sebagai ‘komando’ pada orkestra ini.

Pada gamelan pelog/salendro pola tabuhan bonang dan rincik[12] menggunakan teknik dikemprang[13] atau dicaruk[14]. Namun teknik dicaruk lebih sering digunakan pada pola tabuhan saron I dan saron II. Jadi, perlu digarisbawahi bahwa apabila kita menemukan pola tabuhan bonang yang dikemprang ataupun peking dan saron yang dicaruk pada lagu Degung, sesungguhnya hal itu adalah pengaruh dari jenis kesenian lain yang menggunakan gamelan pelog/salendro, seperti: kiliningan, ketuk tiluan, dan jaipongan.

Teknik gumekan bonang inilah yang menjadi ciri khas lagu-lagu Degung sekaligus yang membedakannya dengan teknik kemprangan atau carukan pada lagu-lagu kiliningan, ketuk tiluan, dan jaipongan. Degung adalah orkestra yang berbentuk instrumental dengan bonang sebagai ‘induk’nya, sementara kiliningan, ketuk tiluan, dan jaipongan musik pengiring untuk sekar atau tarian.

 

6. Repertoar Degung

Repertoar gamelan Degung dibagi menjadi dua jenis: pertama, repertoar Degung klasik yang masih mempertahankan teknik gumekan bonang sebagai ekspresi melodi; kedua, repertoar Degung non klasik – oleh Soepandi disebut dengan Degung Baru – yang sudah dipengaruhi oleh pola tabuhan gamelan pelog/salendro (dikemprang atau dicaruk).

Kalimat lagu pada Degung klasik (intrumentalia) umumnya panjang-panjang, karena itu sering disebut juga dengan ‘lagu ageung’. Sementara pola lagu-lagu Degung Baru merupakan pirigan[15] untuk mengiringi sekar, karena itu sering disebut juga dengan ‘lagu alit’. Namun dalam perkembangannya, beberapa lagu ageung pun sekarang sudah ada yang diisi rampak sekar (vokal grup).

Struktur garapan pada repertoar Degung terdiri dari: pangkat, eusi, dan madakeun. Struktur ini sama dengan istilah overture, interlude, dan coda pada musik Barat. Pangkat adalah kalimat pembuka lagu yang dimainkan oleh waditra bonang. Eusi adalah melodi pokok yang merupakan isi lagu itu sendiri. Madakeun adalah kalimat penutup lagu. Kalimat pangkat dan madakeun lebih pendek daripada eusi.

Melodi pangkat dan madakeun kebanyakan berakhir pada nada 5 (la) dengan pukulan goong (gong besar) yang juga biasanya bernada 5 (la) rendah. Di dalam eusi lagu-lagu pun akan banyak kita temui nada 5 (la) sebagai akhir kalimat lagu (titik), sementara nada 2 (mi) biasanya dijadikan akhir melodi pada pertengahan lagu (koma). Ini menunjukkan bahwa nada 2 (mi) dan nada 5 (la) merupakan nada yang penting dan menjadi ciri khas lain pada repertoar Degung.

Beberapa contoh repertoar Degung yang diciptakan oleh R.A.A. Koesoemahningrat V (Dalem Pancaniti: 1834-1868) dan R.A.A. Prawadiredja II (Dalem Bintang: 1868-1910) pada Album Serial Degung produksi PT. Gema Nada Pertiwi tahun 2002 adalah: 1) Mangari, 2) Maya Selas, 3) Lalayaran, 4) Palsiun, 5) Genye, 6) Paturay, 7) Ayun Ambing, 8) Sang Bango, 9) Paksi Tuwung, 10) Lambang, 11) Manintin, 12) Jipang Prawa, 13) Palwa, 14) Kadewan, 15) Banteng Wulung, 16) Beber Layar, 17) Kulawu, 18) Padayungan, 19) Ladrak, 20) Balenderan, 21) Papalayon, 22) Mangu-Mangu Degung, 23) Jipang Lontang, 24) Gegot, 25) Sulanjana, 26) Karang Mantri Kajineman, 27) Gunung Sari, 28) Banjaran, 29) Kunang-Kunang, 30) Celementre, 31) Renggong Buyut, dan 32) Senggot (Volume 1 s/d 7). Beberapa merupakan hasil recomposed (arransemen ulang) oleh Abah Idi[16].

Abah Idi dalam perjalanannya sebagai tokoh Degung awal abad XX, pernah membuat ciptaan asli (bukan recomposed), yakni: 1) Sangkuratu, 2) Duda, 3) Galatik Mangut, dan 4) Ujung Laut. Sementara Entjar Tjarmedi, sebagai salah seorang tokoh yang pernah ‘menyelamatkan’ Degung pada awal tahun 1950-an dengan siaran rutinnya di RRI Bandung, tercatat juga sebagai komposer repertoar Degung dengan lagu-lagu: 1) Kahyangan, 2) Layungsari, 3) Pajajaran, 4) Kidang Mas, 5) Lengser Midang, 6) Pulo Ganti, 7) Kajajaden, 8) Lambang Parahyangan, dan 9) Purbasaka. Nama-nama komposer lainnya yaitu: Abah Atma yang menciptakan lagu 1) Maya Selas dan 2) Paron; Abah Absar lagu 1) Karang Kamulyan dan 2) Hayam Sabrang; U. Tarya lagu 1) Seler Degung; Hj. Siti Rokayah lagu 1) Sinangling Degung.

Adapun repertoar non klasik/Degung Baru sangat banyak jumlahnya. Sangatlah tidak mungkin untuk dituliskan semuanya dalam paper ini. Namun sebagai sekedar contoh yang paling mewakili jenis tersebut adalah karya Nano S. dengan grup “Gentra Madya”nya berupa album kaset Panglayungan (1977), Puspita (1978), Naon Lepatna (1980), Tamperan Kaheman (1981), Anjeun (1984), dan Kalangkang (1986) yang dinyanyikan oleh Nining Meida dan Barman Syahyana.

Dari judul-judul repertoar musik Degung di atas (dalam bahasa Sunda), bisa kita lihat bahwa musik Degung hampir seluruhnya menggambarkan suasana alam pegunungan, apalagi setelah kita mendengarkan lagu-lagunya yang mengalun lembut. Namun sangat disayangkan, bahwa musik Degung pada zaman sekarang sudah jarang diminati oleh masyarakat Sunda sendiri, sehingga keasliannya terancam punah. Yang disebut musik Degung sekarang hanyalah waditra gamelannya, sedangkan lagu-lagunya kebanyakan sudah bukan lagu-lagu Degung klasik dalam bentuk musik intrumentalia lagi. Para pangrawit Degung juga kebanyakan adalah para pangrawit gamelan Pelog-Salendro.

 


[2] Lihat Kurnia & Nalan (2003: 40); lihat juga Hermawan (2002: 57).

[3] Kirata dalam pengertian masyarakat Sunda adalah singkatan dari: dikira-kira tapi nyata.

[4] Julukan bagi R.A.A. Wiranatakusumah V.

[5] Lihat Tjarmedi (1974: 10); lihat juga Soepandi (1974: 8).

[6] Semacam opera (sandiwara) Sunda, yang terdiri dari nyanyian (sekar) dan permainan instrumen (gending).

[7] Lihat Herdini (1992: 47).

[8] Lihat pembahasan berikutnya tentang laras (tangga nada) Degung.

[9] Di Propinsi Jawa Barat bengkel (pabrik) gong terbesar dan tertua terdapat di daerah Pancasan – Kotamadya Bogor. Harga seperangkat gamelan Degung yang terbuat dari bahan perunggu ini berkisar antara 20 hingga 30 juta rupiah. Selain yang terbuat dari perunggu, ada juga perangkat gamelan Degung yang terbuat dari kuningan dengan harga 10 hingga 15 juta rupiah, atau besi dengan harga 5 hingga 10 juta rupiah. Harga-harga tersebut lengkap dengan rancak, satu set kendang, dan suling. Lamanya pembuatan berkisar antara satu minggu hingga sebulan (bergantung jenis pesanan) (hasil wawancara penulis ketika melakukan riset dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian Seni di Jurusan Karawitan – STSI Bandung).

[10] Gumek adalah ketangkasan/keterampilan sahut menyahut antara tangan kanan dan kiri dalam memainkan bonang musik Degung Klasik (Soepandi, 1988: 70).

[11] Kemungkinan besar hal ini disebabkan karena pengaruh hubungan dengan pemerintahan Belanda, yang di dalamnya pasti terkait juga aspek komunikasi para seniman Barat dengan seniman Sunda. Lihat Sumarsam (2003: bab 3).

[12] sejenis bonang dengan oktav lebih tinggi.

[13] Teknik dikemprang adalah suatu cara menabuh bonang dengan menggunakan kedua tangan dengan jarak satu gembyang. Umumnya tabuhan kemprangan jatuh pada ketukan ganjil (ke-1 dan ke-3).

[14] Teknik dicaruk adalah dua instrumen yang dipukul bersahutan, bila yang satu jatuh pada ketukan ganjil (ke-1 dan ke-3), maka yang lainnya jatuh pada ketukan genap (ke-2 dan ke-4).

[15] Kalimat lagu dengan motif-motif pendek dan berulang-ulang pada posisi nada tumbuk yang terpola sebagai koma dan titik.

[16] Sangat sulit menemukan rekaman repertoar Degung asli, karena teknologi rekaman pada saat itu baru sebatas piringan hitam. Tidak ada lembaga atau instansi yang masih menyimpannya. Kalaupun masih ada mungkin disimpan sebagai koleksi perorangan, dan ini sulit untuk dilacak (wawancara dengan Enip Sukanda dan pegawai RRI Bandung, pada kesempatan terpisah).

note: kontak penulis, *mamarahmat@gmail.com, Jurusan Karawitan STSI Bandung, atau 0818210303




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.